Senin, Maret 30, 2009

Doa Pulang Haji




Doa Kembali dari Melaksanakan Ibadah Haji

(Dibacakan di Depan Rumah)



A’uzubillahi minasysyaitha nirrajim
Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wassalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyaa iwal mursaliin wa’ala aalihi washahbihi ajmaiin.


1. Allahumma ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami bermohon kehadiratMu, dengan sepenuh hati dan harapan. Ampunillah dosa kedua ibu-bapak kami, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Berilah kepada mereka rahmat dan kasih sayangMu. Sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangi kami, ketika kami masih kecil dahulu. Yang mana nama-nama mereka itu, sesungguhnya engkaulah yang mengetahuinya, Ya Arhamarrahimiin.


2. Allahuma ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun. Ampunilah dosa semua mereka yang hadir sekarang ini, baik dosa yang nyata dan tersembunyi, dosa yang sengaja dan yang tidak sengaja, dosa besar dan dosa kecil, karena engkaulah yang Maha Pengampun, Ya Ghafuurur Rahimiim.

3. Allahuma ya Allah, Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Kasihanilah kami. Terimalah amal ibadah kami. Tinggikanlah derajat kami. Berilah kami rezeki yang banyak dan halal serta penuh berkah, sehingga mereka yang hadir di sini dapat memenuhi panggilanMu untuk mengerjakan ibadah haji di tahun-tahun mendatang, Ya Arhamaarahimiin.

4. Allahuma ya Allah, Tuhan yang Maha Pengampun. Ampunilah dosa isteri atau suami kami serta anak-anak kami, dosa keluarga kami, dosa guru yang pernah mengajar kami, dosa orang-orang yang pernah berbuat baik kepada kami, dosa tetangga kami, dan dosa kaum muslimin dan muslimat, Ya Ghafuurur Rahimiim.

5. Allahuma ya Allah, Tuhan yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana. Sehatkan fisik kami, pikiran kami, pendengaran kami, karena engkaulah yang memberikan kesehatan itu, Ya Arhamarrahimiin

6. Allahuma ya Allah, Tuhan yang Maha Besar lagi Maha Bijaksana. Kami semua berlindung dnegan Engkau dari fitnah, dari kezaliman orang yang zalim terhadap kami dan dunia, dan juga kami berlindung kepada Engkau dari siksa kubur dan azab neraka. Ya Allah ampunilah segala dosa kami, terimalah tobat kami, kuatkan iman dan taqwa kami, berilah kami surga-Mu yang penuh nikmat dan jauhkan kami dari azab neraka yang mengerikan, ya Mujiibas sailiin.

Rabbana aatina fiddunnya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina azaban naar.
Walhamdulillai rabbil ‘alamiin…

Selengkapnya..

Makkah Baru 1




Makkah dan Masjid Al Haram yang Sedang Ganti Total Wajah (1)
Makkah pun Jadi Super-Modern

Megaproyek perluasan Masjid Al Haram yang menghabiskan dana ratusan triliun rupiah akan membuat wajah Kota Makkah berubah total. Meski harus kehilangan banyak warisan sejarah, kota suci itu akan menjadi superblok modern yang memberi kenyamanan ekstra kepada para tamu Allah. Terutama saat musim haji.

MAKKAH sedang melakukan face-off: Masjid Al Haram akan diperbesar, areal tawaf di sekitar Kakbah ditutup dengan pelindung, puluhan apartemen pencakar langit sedang diselesaikan, hotel-hotel bintang lima sedang ditambahkan, mal-mal baru dikebut, jalur kereta cepat dari Jeddah dipersiapkan langsung sampai ke Al Haram, monorel dibangun untuk menghubungkan 3M (Makkah-Muzdalifah-Mina), kereta cepat dipersiapkan untuk menghubungkan Jedah-Makkah-Madinah.




Dan banyak lagi: terowongan, terminal, gedung parkir, plaza, eskalator perkotaan, pertamanan.... semua serbabaru. Dua tahun lagi, 2010, sebagian proyek raksasa itu sudah terlihat. Dan semuanya akan sempurna pada 2020.

Penataan Makkah kali ini dilakukan secara total, terencana, dan tidak tambal sulam. Pembuatan konsep perencanaannya saja memerlukan biaya Rp 100 miliar! Kali ini, perubahan Makkah tidak tanggung-tanggung. Langsung dirancang untuk memenuhi kebutuhan masa depan secara sempurna.

Tidak boleh ada sedikit pun yang menghambat: bangunan yang masih baru pun harus dibongkar. Gunung batu yang keras pun diiris, dipotong, dan digali. Peninggalan sejarah tidak dipedulikan. Protes tidak dilayani. Termasuk dari pemerintah Turki yang mempersoalkan dihancurkannya benteng Ajyad. Inilah benteng yang dibangun pada 1775 yang sangat berjasa dalam mempertahankan Kota Makkah. Yakni, benteng yang dibangun ketika Makkah masih di bawah pemerintahan Turki Osmani.

Pokoknya, apa pun yang berada di atas tanah seluas 23 hektare itu harus dikosongkan. Yakni mulai Makkah Hotel, kanan kirinya sampai ke belakang. Kawasan ini mencakup wilayah yang disebut Jabal (Gunung) Omar, yang bentuknya berupa gunung batu yang sangat keras. Selama ini di lereng-lereng dan di atas gunung itu penuh dengan bangunan rumah yang kalau musim haji sangat laris untuk disewakan. Jamaah haji pun harus turun naik gunung ketika pergi atau pulang dari masjid. Tentu juga harus melewati lorong-lorong kecil yang menanjak dan menikung.

Semua bangunan itu sudah dua tahun ini hilang. Sudah digusur empat tahun lalu. Di situlah akan dibangun perumahaan modern, berupa apartemen pencakar langit sebanyak 40 tower (menara). Menara-menara itu dijajar kiri kanan dalam posisi seperti setengah melingkar. Di antara dua jajaran tower itulah disediakan ruang kosong yang bisa dipakai sembahyang untuk 200.000 orang. Pengeras suara tersambung dengan pengeras suara Masjid Al Haram.

Di areal ini juga dibangun pertokoan, termasuk showroom. Sekitar 4.500 toko tersedia di situ. Juga 3.000 showroom. Kendaraan yang bisa ditampung mencapai 12.000, satu penambahan yang luar biasa dibanding tempat parkir sekarang yang hanya muat 570 mobil. Di ujung superblok ini dibangun satu ”pintu gerbang” yang wujudnya gedung pencakar langit kembar, seperti di Kuala Lumpur itu. Masing-masing 50 tingkat.
Kalau kawasan 23 hektare ini sudah jadi, maka berada di plaza ini akan merasakan sensasi luar biasa: menghadap dan memandang ke keagungan Masjid Al Haram yang letaknya agak di bawah sana. Kalau malam, tentu lebih menakjubkan karena pencahayaan lampunya yang seperti tanpa batas. Proyek Jabal Omar, kalau sudah jadi, bisa saja terasa lebih menonjol daripada Masjid Al Haram. Namun, karena desainnya yang menjadi satu kesatuan, tidak akan ada kesan pembandingan seperti itu. Jabal Omar juga bisa disebut bagian dari Masjid Al Haram.

Seluruh biaya untuk membangun kawasan 23 hektare ini saja sekitar Rp 250 triliun. Yang membangun adalah perusahaan swasta bernama Jabal Omar Development Company (JODC). Untuk merealisasikan proyek ini, perusahaan itu langsung go public di bursa saham Arab Saudi. Waktu masuk pasar modal, yang menjadi underwriter adalah sebuah anak perusahaan bank swasta setempat: Al Bilad. Auditornya adalah perusahaan keuangan Amerika Serikat, Ernst & Young. Sebanyak 30 persen saham perusahaan ini dilepas di pasar modal. Sisanya milik beberapa pengusaha terkemuka, seperti Abdul Rahman Faqeeh dan Bin Laden. Faqeeh juga dikenal sebagai pengusaha pertama dan terbesar yang bergerak di bidang rumah potong hewan dan ayam. Belum lama ini Faqeeh membangun rumah potong ayam besar-besaran. Empat buah sekaligus di empat kota. Ini karena ada aturan baru di Arab Saudi (bahasa Mandarinnya: shada alabo) tidak boleh lagi mengangkut ayam hidup dari satu kota ke kota lain.

Meski harus berhenti selama musim haji hari-hari ini, proyek Jabal Omar benar-benar dikebut. Kontraktor readymix-nya, misalnya, sampai harus membangun dua pabrik pencampur semen sekaligus, khusus untuk melayani satu proyek ini saja. Maklum, proyek ini sehari saja memakan semen yang sudah diaduk kerikil 11.000 ton. Sang kontraktor juga harus mampu mengirim semen adukan itu secara konstan 24 bulan penuh.
Tentu bisa dibayangkan, dengan wajah Makkah yang baru seperti itu, apakah masih akan ada tempat bagi orang-orang dari Indonesia yang selama ini naik haji sambil berjualan nasi bungkus dari satu pondokan ke pondokan yang lain. Dan, kalau monorel 3M sudah berjalan, bagaimana nasib para penjual teh susu atau kopi di sepanjang jalan yang menghubungkan tiga wilayah itu, yang umumnya juga dari Indonesia?
Juga tidak tahu lagi di mana tempat para pedagang kaki lima yang selama ini menawarkan barang apa saja dengan berteriak: fatimah, hamsa real, fatimah, hamsa real! (Ibu, lima real, Ibu lima real!). (dikutip dari Laporan ANAS SADARUWAN, Makkah
dan DAHLAN ISKAN, Surabaya, di jpnn.com)

Selengkapnya..

Makkah Baru 2





Makkah dan Masjid Al Haram yang Sedang Ganti Total Wajah (2)
Monorel Rp60 T, Hanya Operasi 2 Hari Setahun


Transportasi haji di Makkah mulai musim haji tahun depan akan berubah total. Kerajaan Arab Saudi sedang menyiapkan moda transportasi massal yang sangat efisien dan ramah lingkungan, sehingga perjalanan ke Arafah saat puncak haji lebih nyaman.

PERJALANAN suci nan kolosal dari Makkah ke Arafah (via Mina dan Muzdalifah) secara tradisional yang terjadi kemarin adalah yang terakhir. Tahun depan caranya sudah berubah sama sekali: pakai monorel. Tidak ada lagi barisan bus yang menyemut, yang hanya bisa beringsut-ingsut dengan kecepatan 5 km/jam, bahkan lebih sering berhenti sama sekali. Kalau mau, masih bisa berjalan kaki untuk jarak sejauh 20 kilometer itu.


Begitu musim haji tahun ini selesai, proyek monorel dari Makkah, Mina, Muzdalifah, dan Arafah itu langsung dimulai. Dalam 10 bulan proyek ini harus sudah selesai, sehingga bisa dipakai dalam musim haji tahun depan. Rel kereta itu akan dibangun di atas tanah dengan tiang-tiang penyangga setinggi antara 5 sampai 10 meter, bergantung pada keadaan setempat. Jumlah relnya empat lajur: dua berangkat, dua kembali. Biaya proyek ini jangan kaget: Rp 60 triliun.

Perubahan itu tentu sebuah revolusi dalam pengaturan perjalanan haji. Zaman dulu, semua orang tentu berjalan kaki atau naik onta. Lalu, ketika jumlah orang naik haji terus bertambah, diadakanlah pengangkutan bermotor. Tiap tahun jumlah bus terus ditambah: tahun lalu sudah mencapai 25.000 bus.

Busnya pun dua macam: ada yang bus biasa, ada juga yang tidak pakai atap. Maklum, ada yang menganggap bahwa dalam perjalanan suci ini, tidak boleh naik kendaraan yang beratap. Hajinya tidak sah. Ini mengikuti pedoman lama bahwa dalam perjalanan itu hubungan antara manusia dan Tuhan yang di langit harus langsung: tidak boleh ada pembatas. Demikian juga ketika menjalani ritual puncak haji, yakni setengah hari berjemur di padang Arafah, tidak boleh berada di bawah tenda.

Meski kian tahun jumlah tenda kian banyak (bahkan ada yang ber-AC), masih juga banyak yang menganggap ibadah seperti itu tidak diterima Tuhan. Belum ada informasi apakah monorel yang menghubungkan Makkah dan Arafah nanti juga dua jenis: monorel beratap dan yang tidak beratap. Atau semuanya saja beratap sehingga yang berpendapat “beratap tidak sah” bisa memilih cara lama: berjalan kaki.

Kami pernah berjalan kaki ketika memimpin rombongan anak-anak muda dari Jawa Pos Group. Berangkat dari Makkah pukul 4 sore, tiba di Arafah pukul 23.30. Sepanjang perjalanan ramainya bukan main. Kalau lagi lelah dan hampir putus asa, kami selalu melihat wanita tua yang masih kuat meneruskan jalan kaki. Di sepanjang jalan itu banyak sekali kaki lima yang berjualan segala macam makanan dan minuman: teh, kopi, Coca-Cola, air putih, dan berbagai kue. Berjalan kaki, asal tidak kelelahan, bisa lebih cepat daripada naik bus. Maklum, lebih dari 2 juta orang harus berangkat dari tempat yang sama, menuju tempat yang sama melalui jalan yang sama. Hanya, jalur kendaraan dan jalur pejalan kaki tidak sama. Di suatu tempat jarak dua jalan ini agak berdekatan (sekitar 500 meter) sehingga kami bisa melihat betapa macetnya kendaraan bermotor di jalur sana. Kadang jarak kedua jalur ini berjauhan sehingga kami hanya bisa melihatnya samar-samar.

Salah satu kelemahan menggunakan kendaraan bermotor adalah ini: kendaraan tidak bisa tiba di Arafah sesuai batas waktu: sebelum pukul 12.00 di Hari Raya Haji. Setiap tahun ada saja ribuan jamaah yang “terlambat” seperti itu, yang menurut keyakinan banyak orang, sebenarnya membuat ibadahnya tidak sah.

Tahun depan, dengan menggunakan monorel, perjalanan selama 6 sampai 10 jam itu bisa dipersingkat menjadi tinggal satu jam! Monorel ini akan berhenti di beberapa stasiun sesuai jadwal yang sudah ditetapkan. Termasuk berhenti di beberapa titik di mana konsentrasi perumahan penduduk sangat padat.

Mengelola perjalanan yang hanya 20 kilometer ini memang luar biasa sulit dan ketat. Maklum, semua perjalanan yang menyangkut jutaan orang itu harus sudah selesai dalam dua hari. Meski sudah ada yang melontarkan ide agar musim haji jangan hanya sekali setahun, toh tidak ada yang bisa memulai. Maklum, di luar musim haji, padang Arafahnya sendiri ditutup. Kuncinya dipegang petugas pemerintah Arab Saudi yang beraliran Wahabi. Yakni, aliran yang beranggapan bahwa musim haji hanya boleh dilakukan di bulan haji seperti selama ini. Kami pernah berumrah bersama tokoh agama dari Indonesia yang sudah nekat mau berhaji di luar musim haji. Tapi, sampai di sana tidak bisa melakukan niatnya itu. Terbentur soal teknis seperti bagaimana harus membuka pintu gerbang padang Arafah.

Maka bisa dibayangkan, monorel senilai Rp 60 triliun itu pun dalam satu tahun praktis hanya akan digunakan dua hari! Selebihnya entah mau diapakan. Kecuali untuk jalur Makkah-Mina yang di sekitarnya masih ada penduduknya. Namun, untuk jalur Mina–Muzdalifah dan Muzdalifah–Arafah, praktis tidak ada manusia yang tinggal di sana. Kami pernah ke Muzdalifah dan Arafah di luar musim haji: benar-benar hanya padang pasir. Di Mina masih ada bangunan hotel kecil-kecil dengan AC window yang terlihat dari luar, tapi semua bangunan itu kosong. AC-nya, selama setahun, juga hanya dinyalakan dua hari di musim haji. Padahal, saat musim haji, bisa mendapatkan emper hotel itu saja sudah beruntung. Terutama kalau bisa mampir buang air kecil.

Modernisasi infrastruktur di Makkah (Makkah bahasa Mandarinnya: Mei Jia yang artinya “rumah indah”) dan sekitarnya tentu akan membawa perubahan besar perilaku jamaah haji. Kian berat saja tugas pembimbing haji: bukan saja bagaimana menggunakan toilet di pesawat, tapi juga bagaimana kelak tinggal di kamar ber-AC dengan fasilitas modern. Termasuk bagaimana tata-cara naik monorel yang serbaotomatis. Jamaah haji kita, bisa-bisa semakin terlihat keterbelakangannya.

Modernisasi infrastruktur transportasi untuk rakyat kecil, sebaiknya memang diutamakan dengan dua tujuan: pelayanan modern untuk rakyat kecil (jangan hanya yang kaya yang bisa hidup modern), dan menambah rasa percaya diri sebagai bangsa.

Dengan perubahan wajah kota Makkah secara total kali ini, citra pusat Islam itu memang akan ikut berubah. Termasuk keterbukaan pikiran umat yang sudah ke sana. Hilangnya sumur zamzam di dalam Masjid Al Haram, misalnya, ternyata diterima juga akhirnya. Pelataran dalam Masjid Al Haram kini lebih luas dan lapang. Bangunan sumur zamzam itu kini sudah dibongkar sama sekali: diratakan. Air sumur zamzam itu dialirkan secara modern ke tempat lain: orang bisa memperoleh air zamzam di tempat yang baru itu, yang letaknya jauh dari masjid. Maka kalau dulu ada jamaah yang merasa lebih sempurna kalau berwudu dengan air zamzam di tempat asalnya itu, kini terpaksa “mengalah” terhadap modernisasi. (dikutip dari laporan ANAS SADARUWAN, Makkah dan DAHLAN ISKAN, Surabaya, di jpnn.com)

Selengkapnya..

Makkah Baru 3





Makkah dan Masjid Al Haram yang Sedang Ganti Total Wajah (3-Habis)
Kakbah Berpayung, Telanjang Kaki Tak Panas Lagi

Pembenahan Kota Makkah, terutama kawasan di sekitar Masjid Al Haram, tetap menjadikan Kakbah sebagai sentrum. Bahkan, kali ini ada pembenahan yang cukup revolusioner di sekitar bangunan kubus itu, sehingga jamaah lebih nyaman beribadah.



PERUBAHAN
total wajah Kota Makkah ini sebenarnya sudah lama direncanakan: 1989. Tapi, memang banyak pekerjaan perencanaan yang harus dilalui sehingga secara fisik, pembebasan tanahnya baru bisa dilakukan pada 2004.

Perencanaannya pun cukup hati-hati. Untuk menggusur peninggalan bersejarah, misalnya, sampai dilakukan pengecekan secara internasional. Termasuk penggusuran benteng Ajyad yang dibangun pada 1775 yang diprotes oleh Turki: ternyata bangunan itu tidak termasuk yang dilindungi UNESCO, badan PBB untuk urusan kebudayaan.
Meski begitu, pemerintah Arab Saudi tetap akan mengabadikannya dengan cara ini: membangun replika benteng itu. Hanya, replika itu tidak akan dibangun di tempat asalnya. Replika itu akan dicarikan tempat yang lebih terhormat dalam keseluruhan tata Kota Makkah yang baru.

Total ada enam proyek superblok di pusat Kota Makkah, yang berarti di sekitar Masjid Al Haram. Kalau di sebelah barat masjid ada superblok Jabal Omar, di sebelah timur masjid ada proyek superblok Jabal Khandama. Sebagaimana juga proyek Jabal Omar, superblok Jabal Khandama akan berupa bangunan-bangunan apartemen pencakar langit, hotel-hotel bintang lima, mal, dan segala macam keperluan orang hidup.



Kalau proyek Jabal Omar seluas 23 hektare, Jabal Khandama tiga kali lipatnya. Karena letak Jabal Khandama berdekatan dengan Jabal Kubes, berarti lokasinya di sekitar istana. Di lokasi ini memang ada istana yang khusus dipergunakan oleh keluarga kerajaan kalau sedang berada di Makkah. Istana ini berupa bangunan tinggi yang dari lantai tertentu bisa melihat Kakbah. Maklum, bangunan istana ini memang praktis menempel di Masjid Al Haram, dekat Babul Malik. Yang belum jelas adalah apakah istana ini termasuk yang harus digusur, karena lokasinya yang terlalu mepet masjid. Atau tetap dipertahankan karena bangunan itu sendiri masih relatif baru.

Enam proyek superblok baru inilah yang akan mengubah secara total wajah Kota Makkah. Juga mengubah pemandangan sekitar Masjid Al Haram. Maklum, lokasi enam proyek tersebut semuanya di sekitar masjid. Bahkan, menjadikan masjid sebagai sentrumnya.

Desain-desain tata kota di enam superblok itu juga dirancang secara terbuka. Layout proyek-proyek itu ditenderkan secara internasional. Juga antara satu proyek dan lima lain harus sinkron dan menjadi satu kesatuan perencanaan. Untuk mengikuti tender itu sudah ada pedoman dasarnya. Yakni, satu perencanaan tata Kota Makkah yang baru, yang disiapkan oleh perusahaan ahli tata kota modern dari Prancis: Atelier Lion. Berdasarkan konsep dasar itulah, peserta sayembara tata kota mengerjakan perencanaan detail enam proyek di sekitar Masjid Al Haram itu. Termasuk dua proyek utama: Jabal Omar dan Jabal Khandama di dekat Jabal Kubes itu.

Dengan enam superblok itu, gaya hidup penduduk Makkah akan berubah total. Dari kebiasaan lama tinggal di rumah-rumah biasa, menjadi berumah di apartemen-apartemen. Ini akan sama dengan apa yang terjadi di dunia Barat. Budaya rumah lama dengan tatanan khas Arabnya akan mengalami perubahan drastis. Dari wajah lahirnya, Kota Makkah masa depan akan terlihat seperti Kota New York atau Singapura.

Penataan Makkah memang boleh dibilang belakangan. Pemerintah kelihatannya lebih mendahulukan penataan Kota Madinah. Kota Madinah (tempat Nabi Muhammad SAW melanjutkan penyebaran agama sampai meninggal dunia) memang sudah sepuluh tahun terakhir ini terlihat sangat cantik. Taman-tamannya luas dan banyak pepohonan. Masjid Nabawi sendiri dibangun kembali dengan sangat cantiknya: termasuk kawasan sekitar masjid. Sistem toiletnya yang di bawah tanah itu bisa dibilang sempurna untuk memenuhi kebutuhan jutaan jamaah haji: bersih, modern, dan naik turunnya memakai eskalator.

Halaman masjidnya yang sangat luas, di samping bisa menampung banyak jamaah, juga menjadi landskap tersendiri bagi masjid itu. Tapi, memang masih ada kelemahannya. Kalau lagi musim panas, halaman itu silau dan membuat kaki yang menginjaknya belingsatan. Tahun ini semua kelemahan itu sudah dipecahkan: halaman itu dipasangi payung-payung raksasa dengan sistem buka tutup elektronik. Bahan-bahannya juga sangat luks sehingga terkesan sangat modern. Pada musim panas, halaman itu praktis berpayung. Sedangkan di musim sejuk, payung-payung itu menutup dan bentuk tertutupnya menjadi hiasan yang memperindah masjid.

Ide memayungi halaman Masjid Nabawi tersebut rupanya datang dari pengalaman masjid itu sendiri saat dilakukan pembangunan secara besar-besaran 20 tahun lalu. Di bagian dalam Masjid Nabawi, terutama yang menghubungkan bangunan lama dan baru, juga ada ruang tembus langit yang cukup luas. Ruang ini menjadi bagian dari masjid dan justru menjadi unsur ventilasi raksasa bagi masjid yang atapnya begitu masif.

Pada saat-saat tertentu, ventilasi ini ditutupi payung-payung. Di saat tertentu, seperti waktu malam atau pagi, payung-payung itu ditutup. Bentuk payung-payung penutup itu seperti hiasan interior tersendiri bagi masjid besar tersebut.

Rupanya dari situ pula pelajaran dipetik: di Makkah, di Masjid Al Haram, juga akan dipasang ”payung” serupa. Memang berada di pelataran sekitar Kakbah bisa memberikan suasana kerohanian yang khusus. Terutama pada jam-jam menjelang sahur di bulan puasa. Namun, di musim panas, terutama tengah hari, pelataran di sekitar Kakbah panasnya bukan main. Padahal, kita harus bertelanjang kaki di situ. Marmer pelataran itu memang sangat menyejukkan, tapi di puncak musim panas tetap saja luar biasa menyengatnya. Dengan pemasangan ”payung-payung” itu nanti, soal ini juga terpecahkan. Apalagi, secara desain payung itu sudah disesuaikan dengan lingkungan Masjid Al Haram, termasuk keberadaan Kakbahnya.

Melihat maket Masjid Al Haram berpayung, rasanya baik-baik saja. Artinya, tidak ada perasaan kebatinan yang terganggu kesuciannya oleh kehadiran benda-benda baru yang didesain indah itu. Entahlah bagi orang yang berpendapat bahwa Masjid Al Haram harus dipertahankan keasliannya karena merupakan tempat paling suci di mata umat Islam. (dikutip dari Laporan Anas Sadaruwan dari Makkah Dahlan Iskan dari Surabaya, di jpnn.com)

Selengkapnya..

Bandara Haji Baru

Bandara Haji Baru untuk Jeddah




OMA di Timur Tengah: Office for Metropolitan Architecture sudah mendesain pelabuhan udara internasional yang baru untuk Jeddah di Arab Saudi



Terletak antara Jeddah dan Makkah, bandara ini akan melayani dua juta jamaah yang akan menunaikan rangkaian ibadah haji ke Makkah selama musim haji. Bandara ini juga akan dilengkapi terminal khusus Keluarga Kerajaan Saudi.




Terminal utama berbentuk lingkaran dengan oasis di tengahnya dan didisain sedemikian rupa untuk menanggulangi membludaknya jumlah kedatangan jamaah selama musim haji. Sedangkan terminal milik Kerajaan bentuknya lebih kecil.



Menurut OMA, Jeddah INTERNATIONAL AIRPORT yang baru ini memang disiapkan secara khusus untuk aktifitas selama 33 hari setahun yang supersibuk selama musim haji, yang menjadi pusat pelayanan menyambut dua juta jamaah haji mancanegara sebelum menuju Makkah.



Tak ada bandara lain di dunia yang seperti itu kekhususan penggunaannya. Itu sebabnya bandara ini secara khusus memerlukan kajian tersendiri, baik di segi pengaturan bandaranya sendiri, maupun arsitekturnya.



Bandara memiliki dua ukuran: terlalu besar dan terlalu kecil. Pada prinsipnya selalu dihadapkan pada kemungkinan untuk kelak akan sampai pada keperluan mendesak untuk diperluas, sesuatu yang tidak dapat ditebak. Ini akan menggiring kepada analisis akurat untuk menentukan ukuran bandara yang paling tepat. Untuk tujuan inilah dimungkinkan untuk menciptakan bentuk bandara terbuka yang permanen.



Sebagai sebuah bandara khusus haji, Bandara Internasional Jeddah yang baru menghadirkan situasi unik: perluasannya diberi kekhususan, dikaitkan dengan tingkat kesibukkannya yang hanya terjadi di momen tertentu untuk lama waktu tertentu pula. Segala kemungkinan ini mengharuskan bentuk pelabuhan udara Jeddah yang baru ini mendapatkan tingkat kekhususan tersendiri, berbeda dibanding bandara 'biasa'.



Beda dengan bandara umum, di sini yang lebih besar adalah fasilitas untuk kedatangan jamaah.Di sini, terminal keberangkatan secara umum ditempatkan di 'tempat besar dan mewah' di atas (kebanyakan di bawah atap bergelombang) dan terminal kedatangan terletak di bawah, yang akan memudahkan pengumpulan bagasi dan urusan administrasi lainnya bagi jamaah mancanegara.***

Selengkapnya..

Jumat, Maret 27, 2009

Bimbingan 6

KEGIATAN JAMAAH HAJI
SETELAH DARI ARAFAH DAN MINA



- Melaksanakan tawaf Ifadah dan Sa’I bagi yang belum
- Salat berjamaah di Masjidil Haram
- Salat Sunat, tawaf sunat
- Membaca Alquran, dzikir dan berdo’a
- Memperbanyak sadakah
- Istirahat
- Bersiap-siap meninggalkan Makkah
- Tawaf Wada’/Tawaf Pamitan

Bagi Anda yang termasuk Jamah haji gelombang II, setelah Tawaf Wada’ melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk


- Ziarah Makam Rasulullah SAW
- Salat Berjamaah di Masjid Nabawi
- Kegiatan ibadah lainnya
- Ziarah makam Baqi’, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud
- Kunjungan ziarah diatur oleh Maktab, tanpa dipungut biaya

Setelah sekitar 9 hari di Madinah, barulah jamaah dipulangkan ke tanah air.

BACAAN ZIKIR

Jika Anda mengalami kesulitan menghafal dan melafazkan/mengucapkan doa-doa tadi, boleh dan sah bila Anda membaca doa di bawah ini saat melaksanakan Tawaf, Sa’I maupun Wukuf. Karena tidak ada bacaan dzikir wajib yang khusus untuk itu.

ASTAGH FIRULLAH AL ADZIIM
LAA-ILAA HA ILALLAHU

SUBHAANALLAHI Wa BIHAMDIHI
SUBHAA NALLAH HIL ADZIIM

ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN
LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA
BILLA HIL ‘ALIYYIL ADZIIM

ALLAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMAD
WA ‘ALAA ALI MUHAMMAD

ALLAHU AKBAR

SUBHAA NALLAHI WABIHAMDIHI


Selengkapnya..

Bimbingan 5

JAMARAT

Tanggal 10 Zulhijjah

- Sesudah Maghrib (masuk tanggal 10) bersiap-siaplah menuju Muzdalifah
- Salat Magrib dan Isya’ dijamak ta’khir
- Selama perjalanan perbanyak membaca: Talbiyah dan dzikir
- Di Muzdalifah, mencari kerikil sebanyak 70 butir untuk melempar Jumrah di Mina

DI MINA
Melontar Jumrah dengan 7 kerikil, setiap kali melempar satu kerikil, membaca:
BISMILLAHI WALLAHU AKBAR

Artinya:
Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar

- Malam itu hanya melempar kerikil di tugu ‘Aqabah’
- Kemudian ‘Tahalul’
- Sesudah ‘Tahalul’ pakaian Ihram boleh diganti pakaian biasa


 Berangkat ke Makkah
(Bagi Jamaah yang menempuh cara Nafar Awal)
- Melaksanakan tawaf Ifadah dan Sa’I (caranya sama)

 Kembali lagi ke Mina
- Di Mina menginap selama dua malam dan melaksanakan/melontar Jumrah di tiga tugu: ‘Ula, Wustha, dan Aqabah
- Menyembelih kambing/hewan kurban


MASIH DI KOTA MINA

- Bagi jamaah yang menempuh Nafas Tsani:
- Setelah melontar Jumrah ‘Aqabah dan tahalul, tetap tinggal di Mina selama tiga hari berturut-turut (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah)
- Setiap hari: sesudah dzuhur atau maghrib (lihat keadaan) melontar jumrah di tugu ‘Ula, ‘Wustah, dan ‘Aqabah. Masing-masing tugu tujuh kerikil
- Selama di Mina dianjurkan memperbanyak dzikir dan baca Alquran
- Menyembelih kambing/hewan kurban

Berangkat meninggalkan Mina (tanggal 13 Zulhijjah) menuju Makkah untuk melaksanakan Tawaf ‘Ifadah’ dan Sa’i (Caranya sama)

Keterangan:
‘Nafar Awal dan Nafar Tsani
Kedua cara tersebut sama baik dan utama

Selengkapnya..

Selasa, Maret 24, 2009

Bimbingan 4

WUKUF

Menjelang Wukuf, Tanggal 8 Zulhijjah

Sebelum berangkat menuju Arafah, dianjurkan:
- Mandi
- Berwuduk
- Salat Sunat Ihram 2 rakaat
- Kenakan pakaian ihram dan membaca niat Haji yaitu
LABBAIK ALLAHUMMA HAJJAN
Artinya:
Aku Penuhi Panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan ibadah haji.

Selama dalam perjalanan menuju Arafah, perbanyaklah membaca
TALBIYAH
SALAWAT

Labbaik, Allahumma Labbaik
Labbaikala Syariika Laka Labbaik
Innal Hamda Wan Ni’mata Laka
Wal Mulka-Laa Syarii Kalak


Artinya:
Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu Ya Allah
Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu
Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu
Tidak Ada Sekutu Bagi-Mu
Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu
Sesungguhnya, Segala Puji, Nikmat,
Dan Kekuasaan Adalah Milik-Mu
Tidak Ada Sekutu Bagi-Mu.


Bacaan Salawat:
ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD
WA ‘ALAA ALI MUHAMMAD


Artinya:
Ya Allah Limpahkanlah Rahmat kepada Nabi Muhammad dan Keluarganya


Tanggal 9 Zulhijjah

- Sesudah masuk waktu Zuhur dan mengerjakan salat Zuhur dan Asar dijamak taqdim, perhatikan dan simak baik-baik khutbah wukuf yang disampaikan seorang khatib yang berisi petunjuk bagi jamaah haji tentang ‘Hakekat Wukuf.’ Sehingga Anda yakin bahwa do’a Anda pada saat wukuf diterima Allah SWT.
- Pergunakanlah waktu wukuf yang hanya 6 jam dengan sebaik-baiknya. Ingat, ‘’Haji adalah Arafah!”

BACAAN MULIA, DZIKIR DAN DOA WUKUF

1. Bismillaah-hir rahmaan nir rahiim
Alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiin
Ar rahmaan-nir rahiim
Maa liki yaumid diin
Iyya kana’ budu
Wa-iyya kanas tai in
Ihdinash siraa tal mustaqim
Shiraatal ladziina ‘an amta ‘alaihim
Ghairil maghduu bi alaihim
Walad dhaaal – liin
Aamiin..

…………………..(3 kali)


2. Shallallahu wamalaa ikatuhu ‘alan-nabiyyil um-miyyi
Wa ‘alaa aalihi wa ‘alaihis salaamu
Warahmatullaahi – wabarakatuh

………. (100 kali)


3. Bismillaah hir rahmaan nir rahiim
Qul huwallahu ahad. Allahus shamad
Lam yalid-walam yuulad
Walam yakul lahuu kufuan ahad

…………..(100 kali)


4. Astagh firullah hal adziim
Alladhii laa ilaaha illa-huwal hayyul
Qayyumu wa-atuubu ilaiih

………..(100 kali)

5. Labbaika
Allahumma labbaiik
Labbaika laa syarii kalaka labbaik
Innal hamda wan-ni’mata laka wal mulka
Laa syarii kalak

6. Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaaha illa allahu
Wallaahu Akbar
Allahu akbar walil laah hil hamd

………..(3 kali)

7. Laa haula walaa quwwata illa billah hil ‘aliyyil ‘azhiim
Asy-hadu annal-laaha kulli syai-in qadiir
Wa-annal-laaha qad akhaata bi killi syai-in ‘ilmaa



8. A’uudzu bil-laahi minas syaitaan nir rajiim
Innal laaha huwas samii’ul aliim

…………(3 kali)




Selengkapnya..

Senin, Maret 23, 2009

Bimbingan 3

SA’I

Do’a Melaksanakan Sa’i:

Sa’i dimulai dari Bukit Safa – ke Marwa tujuh kali, berakhir di bukit Marwa.
Sebelum melaksanakan Sa’I, hadapkan badan ke Ka’bah, angkat tangan kanan dan ucapkan: BISMILLAHI WALLAHU AKBAR (dibaca tiga kali)

Kemudian berjalan di lajur kanan dan membaca doa ini berulang-ulang sepanjang jalan: Laa-Ilaa Ha Ilallahu Wallahu Akbar
Laa-ilaaha ilallahu wahdahu laa syarii kalah,
Lahul mulku walahul hamdu, yuhyii wayumiitu
Biyadihil khairu wahuwa ‘aala kulli syai-in Qadiir


Laa Ilaa-ha ilallahu wahdahu la syarii kalah,
Anjaza wa’dahu, wanashara abdahu,
Wahazamal ahza ba wahdah



Artinya:
Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar
Tidak ada Tuhan selain Allah Yang maha Esa
Tidak ada sekutu bagi-Nya
Kerajaan dan Pujian hanya milik-Nya
Dialah yang menghidupkan dan mematikan,
Di tangan-Nya segala kebajikan,
Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu

Tidak ada Tuhan selain allah yang Maha Esa
Tidak ada sekutu bagi-Nya
Dia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya,
Dan mengalahkan sendiri kelompok-kelompok musuhnya


Ketika melewati pilar hijau yang ditandai oleh lampu berwarna hijau, khusus jamaah haji pria disunatkan berlari-lari kecil di antara dua pilar hijau tersebut.

Ketika mencapai bukit Marwa, sebelum melanjutkan perjalanan balik menuju Bukit Safa, dianjurkan menghadap ke arah Ka’bah dan mengucapkan: BISMILLAHI WALLAHU AKBAR (tiga kali).

Sai selesai setelah tujuh kali bolak-balik yang berakhir di bukit Marwa. Dilanjutkan dengan TAHALUL, yaitu menggunting rambut di kepala paling sedikit tiga helai bagi pria dan wanita.

Selengkapnya..

Bimbingan 2

TAWAF

Tata cara pelaksanaan Tawaf

- Berdirilah dengan sikap sempurna/tegak pada ‘Garis Batas Tawaf’
- Hadapkan badan serta wajah kea rah Ka’bah
- Bila tidak mungkin, cukup menghadapkan sedikit badan ke Ka’bah
- Angkat tangan kanan dan ucapkan (1) BISMILLAAHI WALLAHU AKBAR, kemudian mengecupnya, terus melangkah mengelilingi Ka’bah dengan membaca doa berikut ini berulang-ulang sepanjang jalan, hingga ‘Sudut Yamani’:


(2) SUBHAA NALLAH, WAL HAMDU LILLAAHI
WALA ILAA-HA ILALLAHU WALLAHU AKBAR,
WALA HAULA, WALA QUW WATA
ILLA BILLAH HIL ALIYYIL ADZIIM


- Ketika sampai di Rukun Yamani, ucapkan
(3) BISMILLAHI WALLAAHU AKBAR

Tanpa mengecup, dan membaca doa do’a di bawah ini berulang-ulang hingga ‘Rukun Aswadi’/Garis Batas Tawaf

(4) RABBANAA ATIINA FID DUNYYA HASANAH
WAFIL AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA ADZA BAN NAAR
WA-AD KHILNAL JANNATA MA-AL ABRAARI
YA AZIIZU, YA GHAFFAARU, YA RABBAL ‘AA-LAMIIN.


Arti do’a TAWAF

1. Saya mulai bertawaf dengan menyebut nama Allah, Allah itu Maha Besar
2. Maha suci Allah, segala puja dan puji hanya bagi Allah. Allah Maha Besar, Tiada daya untuk memperoleh manfaat, dan Tiada kekuatan untuk menolak kesulitan, kecuali hanya dengan pertolongan Allah semata, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung
3. Dengan Nama Allah, Allah Itu Maha Besar
4. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Masukkanlah kami ke dalam surga, bersama orang-orang yang berbuat baik, Wahai Tuhan yang Maha Mulia, yang Maha Pengampun, dan Tuhan yang Menguasai seluruh alam



Selesai melaksanakan tawaf tujuh kali putaran mengelilingi Ka’bah, berdoalah di dinding ‘MULTAZAM’ (bila keadaan memungkinkan), mengingat letak dinding Multazam berdampingan dengan Hajar Aswad dan pintu Ka’bah serta sangat padat oleh jamaah. Karenanya, kalau tidak memungkinkan lebih dekat, berdoalah agak menjauhi tempat tersebut, namun masih searah atau lurus dengan ‘Multazam’
Kemudian salat sunat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim dan kalau memungkinkan juga di Hijir Ismail. Usai salat sunat, minum air zam-zam dan membaca do’a:

ALLAHUMMA INNI AS-ALUKA ‘ILMAN NAA-FI’A
WA RIZQAN Wa SI-‘A WA SYIFA-AM MIN KULLI DAA IN
WASAQAMIN BIRAHMATIKA YA ARHAMAR RAA HIMIIN


Artinya:
Ya Allah, aku mohon pada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rizki yang luas, dan kesembuhan dari segala sakit dan penyakit. Dengan rahmat-Mu ya Allah Tuhan yang Maha Pengasih dari segenap yang pengasih.

Selengkapnya..

Bimbingan 1

Bimbingan Ibadah Haji

MIQAT
Bagi jamaah haji Gelombang I, Miqat Makani-nya di Bir Ali
Jamaah Haji Gelombang II Miqat Makaninya di Jeddah

Di MIQAT
Setelah mandi, berwudu, salat sunat ihram 2 rakaat, dan mengenakan pakaian ihram, membaca niat umrah: LABBAIK ALLAHUMMA UMRATAN
Artinya: ‘Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah’

Dalam perjalanan dari Jeddah/Bir Ali menuju Makkah dianjurkan memperbanyak bacaan TALBIYAH dan SALAWAT


Lafaz Talbiyah:
Labbaik Allahumma Labbaik,
Labbaikala syarii kalaka labbaik,
Innal hamda wan ni’mata laka
Wal mulka-laa syarii kalak


Bacaan Salawat:
Allahumma shalli’alaa Muhammad wa’ala Alii Muhammad

Artinya:
Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah
Aku datang memenuhi panggilan-Mu
Aku datang memenuhi panggilan-Mu,
Tidak ada sekutu bagi-Mu,
Aku datang memenuhi panggilan-Mu,
Sesungguhnya segala puji, nikmat,
Serta kekuasaan adalah milik-Mu,
Tidak ada sekutu bagi-Mu.


Artinya:
Ya Allah, limpahkanlah rahmat
Kepada Nabi Muhammad dan keluarganya


Bagi yang melaksanakan ‘Haji Tamattu’
Setelah masuk kota Makkah, dan istirahat sejenak, di tempat pemondokan.

Jamaah bersiap-siap menuju Masjidil Haram melaksanakan:
- Tawaf
- Sa’i
- Tahalul

Selengkapnya..

Senin, Maret 02, 2009

Tips Haji 7



Tips Haji 7


Arafah dan Mina

Puncak Haji, Fisik dan Disiplin Diuji


HAJI adalah Arafah. Inilah puncak ritual ibadah haji, wukuf di Arafah. Karenanya, pada waktunya, setiap jamaah haji akan ke Arafah dengan cara apapun dan dalam kondisi bagaimana pun, untuk dapat melaksanakan wukuf.

Bagi kita yang sudah diatur perjalanannya, akan berangkat ke Arafah sehari menjelang wukuf, dengan memakai pakaian Ihram. Sama seperti jutaan jamaah lainnya, semua ingin hadir di Arafah, tidak ingin terlambat. Tak peduli, bertengger di atas mobil, atau berjalan kaki pun, jadi!


Di sini memang fisik harus tetap prima dan disiplin serta sabar, tetap dijaga. Bagaimana kita harus disiplin sejak dari pemondokan, naik bus, di atas bus yang terkadang harus beringsut-ingsut jalannya karena ratusan ribu kendaraan bergerak dalam waktu bersamaan, menuju lokasi yang sama.

Di kemah Arafah, disiplin dan kesabaran serta sifat saling menolong lebih mengemuka. Karena kita akan berkumpul dalam jumlah yang banyak di bawah satu tenda besar per rombongan, harus ekstra sabar saat berurusan dengan kamar kecil dan tempat berwuduk. Apalagi kita sedang berpakaian Ihram, banyak pantang-larangnya.

Saat puncak haji tiba, ibadah wukuf memasuki masa-masa yang mengaduk-aduk perasaan setiap jamaah. Sejak azan berkumandang, ketika kutbah wukuf disampaikan, ketika usai salat berjamaah zuhur dan asar yang diqasar dan jamak taqdim, setiap jamaah akan menundukkan kepala, bercermin pada diri sendiri, tentang apa saja yang telah dilakukan selama ini, terhadap sesama umat, dan juga terhadap Allah. Inilah semacam perjalanan kilas balik, karena semua perbuatan dosa dan juga amal baik, kini terbayang di depan mata. Ritual selama wukuf akan khusyuk terjalani dan air mata akan bercucuran membasahi padang pasir Arafah yang mashur itu.

Ketika matahari agak condong di langit sebelah barat, saat panasnya tidak lagi menyengat, upayakanlah keluar dari tenda, atau di dalam tenda pun tak apa. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, karena Arafah adalah salah satu tempat mustajab untuk berdoa, memohon dan berhajat, bahkan boleh dengan bahasa yang anda kuasai. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi mengabulkan setiap permintaan hambaNya, terlebih lagi saat Wukuf.

Selesai Wukuf, satu lagi ritual yang mensyaratkan ketahanan fisik dan disiplin yang tinggi menanti. Mabit di Muzdalifah. Disiplin sudah dituntut sejak menunggu angkutan dari Arafah,
berada di padang luas Muzdalifah dengan serangkaian ibadah plus memungut kerikil untuk melontar jumrah. Satu saja tidak disiplin, ribuan jamaah akan merasakan dampaknya, baik
saat antrian naik bus, di atas bus, saat perjalanan menuju Mina.

Ya, malam itu Mina didatangi jutaan jamaah, termasuk Anda. Bayangkan ruwetnya sekiranya ada yang ingin semaunya saja. Di sini kembali kita ingatkan diri, bahwa kehadiran di tanah suci ini adalah untuk beribadah. Lakukanlah semua rangkaiannya dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan dengan ilmu.

Ritual melontar Jumrah adalah salah satu yang kerap diberi perhatian lebih mengingat selalu ada insiden mengingat jutaan umat berbilang bangsa melaksanakannya dalam waktu yang nyaris bersamaan. Karenanya, setiap jamaah wajib mengindahkan apa yang sudah diatur oleh panitia di sana. Kapan waktu yang baik dan aman untuk melontar jumrah, patuhi itu dan tetaplah selalu dalam rombongan yang utuh.

Memang, saat ini lokasi melontar jumrah sudah diperluas dan dibangun bertingkat, terowongan menuju ke lokasi jamarat juga sudah tersedia dalam dua jalur, dan kesiagaan serta kesigapan aparat keamanan Saudi Arabia bakal menambah jaminan akan kelancaran semua proses ritual ini. Namun, kedisiplinan tiap individu jamaah, jauh lebih utama, agar ibadah lancar. Keluarga yang menanti di rumah pun, tidak lagi berdebar-debar.(amzar)

Selengkapnya..

Tips Haji 6

Tips Haji 6

Fisik Bugar, Ibadah Haji Lancar

IBADAH haji memang tidak berlebihan disebut ibadah fisik. Sebuah rangkaian pelaksanaan ibadah yang memerlukan fisik bugar agar hasil yang lebih maksimal dapat dicapai.

Apalagi kita berada di sana dalam waktu yang cukup lama, sekitar 40 hari pulang-pergi. Tentu memerlukan pula kepandaian mengatur waktu dan tenaga sedemikian rupa sehingga keduanya terpakai secara efektif. Ibadah utama tetap terikuti, ibadah dan kegiatan lainnya juga mampu diikuti dan dilaksanakan dengan maksimal.

Itu pula barangkali yang menjadi salah satu alasan sehingga muncul ajakan yang sering kita dengar, berhajilah selagi muda, sehat dan fisik kuat.

Kendati begitu, jangan pula cepat mengeluh, apalagi menyerah, jika fisik tidak lagi sekokoh dulu. Di sana nanti Anda akan melihat sendiri bahwa mereka yang bahkan sudah harus berjalan dengan terbungkuk-bungkuk pun, akan tampil dengan semangat tinggi untuk menunaikan rangkaian ibadah di Tanah Suci. Seakan ada tenaga ekstra, terasa ada yang membantu! Percayalah itu!


Dari pengalaman terdahulu, barangkali catatan berikut dapat membantu para jamaah calon haji untuk mendapatkan kebugaran fisik atau bagaimana dapat mengatur waktu dan tenaga di sana, agar tidak terbuang percuma:

(1) Selagi masih di tanah air, sempatkan berjalan kaki sedikitnya 15 menit setiap pagi, misalnya usai melaksanakan salat subuh, dengan kecepatan dua kali berjalan biasa.

(2) Kalau bisa, sertakan olahraga ringan atau bersepeda, itu akan lebih baik.

(3) Membiasakan berjalan kaki akan terasa manfaatnya saat berada di tanah suci nanti, karena keseharian di sana akan lebih banyak ditempuh dengan berjalan kaki, mulai dari berangkat pulang-pergi ke Masjidil Haram atau Nabawi (terutama yang pemondokannya tidak terlalu jauh), bahkan aktifitas ibadahnya sendiri, seperti tawaf dan sa'i. Ditambah lagi dorongan kuat untuk menelusuri kawasan sekitar Masjidil Haram jika ada waktu luang, sangat terbantu jika kebugaran fisik mendukung.

(*) Yang menderita sakit maag, jangan mengonsumsi yang asam-asam atau cabe. Untuk mengonsumsi obat-obatan guna menurunkan gejala sakit maag, mintalah petunjuk dokter untuk mendapatkan tindakan yang benar.

(*) Konsumsilah secara teratur multivitamin, setidaknya sejak dua pekan sebelum berangkat, setiap hari, sampai dengan kepulangan ke tanah air. Penulis menerapkan hal ini, mengonsumsi multivitamin yang selama ini familiar dan cocok dikonsumsi, ditambah multivitamin lain yang disarankan seorang teman yang biasa menjualnya melalui jalur ala MLM. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah karena sejak berangkat sampai kembali lagi ke rumah, 40 hari penuh aktifitas fisik tersebut, tidak ada gangguan kesehatan yang berarti. Kalau batuk atau pilek, itu sangat wajar. Sebab anekdot yang lazim dilontarkan setiap jamaah haji adalah, hanya unta saja yang tidak mengalami batuk dan pilek di tanah suci selama musim haji! Anda kelak akan terbiasa mendengar ''konser'' batuk saat mengikuti salat berjamaah di Masjidil Haram nanti!

(*) Siapkan juga obat-obatan luar yang dapat mengurangi rasa pegal dan pelemas otot. Tentu, sekali lagi, yang sudah biasa dipakai dan familiar dengan kita. Biasanya, dua-tiga hari pertama aktifitas pulang-pergi dan beribadah di Masjidil Haram, otot-otot terutama di sekitar paha dan betis akan bereaksi dan memerlukan pelemasan. Mungkin ''kaget'' saja. Setelah itu, rasa pegal dan penat-penat itu akan hilang dengan sendirinya. Kita akan kaget sendiri dengan kemampuan fisik yang kalau dalam aktifitas keseharian di tanah air, mungkin tak sanggup dijalani. Namun di sana, akan dijalani dengan nikmat. Percayalah. Itulah nikmatnya beribadah di Tanah Suci.

(*) Untuk kenyamanan, sebaiknya apapun obat-obatan yang dibawa, diingat dan ditunjukkan sewaktu ada pemeriksaan kesehatan dan pencatatan oleh petugas di embarkasi Batam. Ini dimaksud agar dalam perjalanan berikutnya, terutama di Arab Saudi, kita bisa terhindar dari kemungkinan ada masalah sewaktu dilakukan pengecekan barang bawaan, termasuk obat-obatan.

(*) Selain kesiapan fisik dan obat-obatan dari tanah air, efisiensi kegiatan fisik selama di tanah suci juga perlu dijaga ritmenya. Kalau memang anda termasuk yang diberangkatkan pada gelombang pertama, tentu terlebih dahulu akan ke Madinah. Nah, disarankan agar jaga betul kondisi fisik. Memang cuaca dikabarkan dingin saat musim haji nanti, sama seperti tahun lalu. Namun, bukan berarti tidak ada panasnya. Kalau siang hari, cahaya matahari tetap menyengat. Makanya, kalau memang tidak perlu, ngapain keluyuran, apalagi diperturutkan pula keinginan bersafari dari mal ke mal yang memang amat mengundang karena amat banyaknya di sekitar Masjid Nabawi. Ingat, tujuan utama adalah beribadah haji dan keberadaan di Madinah baru masuk dalam hitungan ziarah, sementara ibadah puncaknya nanti setelah di Makkah, Arafah dan Mina. Jangan sampai tenaga dan stamina habis sebelum waktunya!

(*) Begitu pula jamaah haji gelombang kedua, yang akan langsung ke Makkah melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Kondisi fisik juga harus dipertimbangkan. Memang akan ada penjadwalan ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Jabal Nur dengan Gua Hira'-nya, Jabal Rahmah di Arafah, dan sebagainya, serta banyak tempat menarik lainnya di sekitar Makkah, seperti Pekuburan Ma'ala.

Bahkan yang sangat kencang godaannya adalah bertaburannya pusat belanja dan jajanan di seputaran Masjidil Haram, mulai dari kelas super VVIP, sampai kaki lima, semua serba ada, serba menggoda. Kembali kita harus ingat niat utama ke sana untuk ibadah haji.

Pertimbangkan betul, misalnya kalau tidak perlu betul jangan memaksakan diri mendaki ke Jabal Rahmah atau Gua Hira. Karena lazimnya jadwal ziarah ke sana sebelum memasuki di antara puncak ritual haji di Arafah dan Mina.

Artinya, sedapat-dapatnya kita mengurangi resiko yang mungkin timbul sehingga ibadah yang utama dapat kita laksanakan dalam kondisi fisik yang masih prima. Masih tersedia cukup waktu setelah rangkaian ibadah utama dilalui, jika memang masih ingin berziarah, atau memuaskan rasa ingin tahu terhadap objek-objek bersejarah di sana.(amzar)

Trik Memakai Ihram

Jangan sepelekan masalah ini. Tidak susah-susah amat, memang. Namun jika tidak diperhatikan secara benar bagaimana cara mengenakan kain ihram, tentu akan merepotkan dan mengganggu kekhusyukan pelaksanaan ibadah nantinya. Kain ihram biasanya mulai dipakai ketika akan memasuki Makkah untuk melaksanakan umrah, sejak dari bandara King Abdul Aziz Jeddah, atau tempat lain yang ditentukan sebagai miqat bagi yang lebih dulu ke Madinah, sampai nanti melaksanakan tawaf dan sa’i. Juga nanti mulai saat akan berangkat wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dab bermalam di Mina, kita akan mengenakan ihram.

Ada banyak petunjuk tentang ini, termasuk juga di buku saku yang diberikan Departemen Agama. Terserah mana yang menurut Anda paling gampang, paling aman dan nyaman, dan praktis. Atau trik seperti berikut mungkin juga bisa membantu:

* Untuk kain ihram bagian bawah. Pertemukan kedua ujung kain ihram di tangan kanan, yang diposisikan seperti kita memakai kain sarung. Lantas salah satu ujungnya tadi dikepit. Sisanya direntang dengan ujung yang tengah, lantas dilipat seperti memakai sarung. Biasanya untuk lebih menguatkan, dibantu lagi dengan ikat pinggang

* Untuk kain ihram bagian atas, dilipat sedikit, lalu dibentangkan seperti kita biasa menyampirkan handuk dari arah punggung-pundak, agak lebihkan yang sebelah kanan, agar nanti dapat disampirkan di pundak dengan nyaman.

Selengkapnya..

Makkah

Ziarah Tanah Suci 1

Ke Makkah dan Madinah, Ya Ibadah, Ya Ziarah

Oleh A M Z A R

INILAH kesempatan yang sangat menguntungkan bagi yang berkesempatan melaksanakannya. Beribadah sambil juga berziarah. Ya, siapa yang tidak bergetar hatinya saat berada di kota suci Makkah Almukaramah dan Madinah Almunawwarah, dua tanah haram yang merupakan tempat idaman bagi setiap umat Islam.

Dua kota penting ini dan kawasan sekitarnya sarat dengan tempat-tempat suci dan bersejarah. Rugi rasanya kalau sudah berada di sana, untuk beribadah haji atau umrah, tapi tidak meluangkan waktu melihat dari dekat tempat-tempat bersejarah, menyaksikan secara nyata tempat-tempat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan agama Islam. Lain rasanya bila sudah berada langsung di sana. Pengalaman jelas bertambah, plus juga dapat mempertebal iman, jika itu memang diniatkan dengan baik.


Berada di Makkah, tentu tempat utama yang bikin hati bergetar dan tenteram adalah Masjidil Haram, yang di dalamnya terdapat Kakbah, kiblat bagi setiap muslim dalam melaksanakan ibadah salat. Tak hanya di musim haji, sepanjang waktu masjid yang paling agung ini senantiasa ramai. Tentu suasana lebih menggetarkan saat musim haji, karena jutaan umat dari seantero dunia mengunjunginya.

Upayakanlah agar ada waktu untuk mengenal lebih dekat Masjidil Haram ini. Pintu masuknya yang hampir seratus buah, dengan pintu utama bernomor 1 bernama King Abdul Aziz Gate, berdekatan dengan Istana Raja di bukit Qubays, yang ditandai dinding beton hampir tegak lurus di sisi timur laut Masjidil Haram. Bukit tempat istana raja ini juga bersejarah, karena di sinilah dulu junjungan alam Nabi Muhammad SAW dibersihkan hatinya oleh malaikat Jibril sebelum di-Isra’ Mi’raj-kan.

Strategisnya pintu ini, karena baru saja beberapa langkah menyusurinya, Kakbah yang agung sudah kelihatan. Pintu lainnya tersedia di sekeliling masjid. Jadi kita dapat masuk dari arah mana pun. Mau ke lantai atas, atau ke lantai puncak masjid, ada tangga biasa, juga ada elevator. Bahkan disediakan lift khusus bagi penderita cacat dan mereka yang sakit atau uzur.

Mau air zam-zam, akan dengan gampang mendapatkannya mulai dari pintu masuk ke pelataran masjid, di sejumlah titik dan sudut di tiap lantai juga tersedia sangat banyak. Tinggal putar atau tekan kran saja, karena sudah tersedia cangkir plastik dalam jumlah banyak. Boleh juga jika kita sengaja bawa botol plastik. Di sekeliling masjid pun tersedia banyak tempat untuk makan dan belanja. Pokoknya, inilah senyaman-nyaman tempat untuk beribadah.

Dekat masjid ini, satu tarikan garis lurus dari Babus Salam, hanya beberapa meter dari pintu pagar menjelang masuk pelataran masjid, terdapat Rumah Maulid, tempat di mana dulu Rasulullah SAW dilahirkan. Bangunannya sangat sederhana, namun selalu dijaga askar Saudi, untuk mencegah perilaku berlebihan dari jamaah yang berziarah.

Kalau mau ziarah ke tempat-tempat bersejarah lainnya di Makkah, tempatnya tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram. Jabal Nur misalnya, terletak sekitar enam kilometer sebelah utara Masjidil Haram. Gunung atau bukit ini begitu termashur karena di sinilah terdapat Gua Hira. Dua nama ini, Jabal Nur dan Gua Hira tercatat dalam bagian penting sejarah Islam karena di gua inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama, Surat Al ‘Alaq dari ayat 1 sampai 5.

Sayang, pada waktu berhaji kemarin, Saya yang semula memang berencana naik ke sana, batal karena tak cukup waktu. Jadi, hanya melihat dari kejauhan bagaimana sejumlah orang sedang mendaki ke atas sana. Diperlukan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke puncaknya. Agak menurun sedikit dari puncak itulah, terdapat Gua Hira, yang cukup untuk duduk empat orang. Ruangan gua, kira-kira setinggi orang berdiri.

Kami juga sempat singgah di kaki Jabal Tsur, yang posisinya kira-kira enam kilometer sebelah selatan Masjidil Haram. Tempat ini juga terkenal karena dulunya menjadi tempat persembunyian Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Assiddiq, sewaktu akan berhijrah ke Madinah. Ketua kloter kami, Drs H Muchtaruddin SH mengisahkan sedikit sejarahnya, ketika Rasulullah SAW selamat dari kepungan kafir Quraisy di rumahnya, kemudian bersama sahabatnya Abu Bakkar Assiddiq mendaki Jabal Tsur ini, bersembunyi dari kejaran musuh.

Di dalam gua di Jabal Tsur inilah terjadi kisah yang sangat terkenal, di mana kaum kafir Quraisy yang sudah sampai di mulut gua tempat Rasulullah dan sahabatnya itu bersembunyi, mendapati pintu gua sudah tertutup sarang laba-laba. Juga burung merpati yang sedang bertelur di sarangnya. Kenyataan yang menggiring mereka kepada satu kesimpulan, tak mungkin Nabi Muhammad SAW bersembunyi di sana. Rasulullah pun selamat dan meneruskan perjalanannya ke Madinah. Padahal sahabatnya sempat cemas saat para kafir Quraisy sudah sampai di mulut gua.

Melihat posisi Jabal Tsur di atas bebukitan berbatu yang untuk kondisi kini memerlukan waktu selama satu setengah jam untuk mendakinya, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya ketika itu posisi Rasulullah dan sahabatnya, apalagi dalam kondisi dikejar-kejar musuh. Untuk masuk ke gua pun, harus dengan posisi tiarap, dan di dalamnya hanya dapat untuk duduk saja.

Satu lagi tempat ziarah yang terkenal tak jauh dari Makkah, adalah Jabal Rahmah, yang terletak di Padang Arafah. Ada tugu putih di atasnya, sebagai penanda di situlah tempat terjadinya pertemuan antara Nabi Adam as dengan istrinya Siti Hawa setelah satu abad terpisah sejak terusir dari surga. Ini adalah salah satu lokasi yang diyakini sebagai tempat yang makbul untuk berdoa. Banyak memang jamaah yang berdoa di sana, terutama yang belum menemukan jodoh, baik dirinya maupun keluarganya. Makanya, pembimbing ziarah di awal-awal sudah mewanti-wanti jamaah untuk tidak ‘’salah’’ berdoa di sini, jangan pula berniat untuk ‘’tambah’’ bini!

Masjid Jin. Ini juga salah satu tempat terkenal. Letaknya sangat dekat dengan Masjidil Haram. Saya kerap melintasinya karena letak masjid yang tidak terlalu besar ini persis di pinggir jalan menuju ke Masjidil Haram. Dari arah Shaib Amir tempat pemondokan saat itu, jalan kaki sekitar sepuluh menit, dua kali menyeberang jalan, belok kiri, sudah berpapassan dengan masjid yang sering terlihat tertutup ini. Dari arah Masjidil Haram, masjid ini letaknya di ujung Pasar Seng, beberapa ratus meter dari Rumah Maulid.

Dinamakan Masjid Jin karena ada sekelompok jin bersepakat (berbai’at) mengakui Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Masjid Jin ini ada kaitannya dengan asbabunnuzul Alquran surat Jin ayat 1-2.

Dari masjid ini, berjalan lurus ke arah utara, tak sampai setengah jam, kita akan sampai ke satu kompleks pemakaman yang sangat terkenal, Ma’ala. Hanya kaum pria yang diperkenankan masuk sampai ke areal dalam pemakaman. Peziarah wanita, hanya sampai di gerbang. Ada juga yang hanya menyaksikan dari atas jembatan layang.

Lazimnya pemakaman di tempat lain di Arab Saudi, di sini pekuburan hanya ditandai dengan beberapa potong batu sedikit lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa, di atas tanah yang rata. Tidak ada gundukan atau hunjaman batu nisan. Di sinilah umumnya jamaah haji yang wafat di Makkah, dimakamkan.

Di sini jamaah dapat melakukan ziarah ke makam salah satu keluarga terdekat Rasulullah SAW, yakni istri Beliau Siti Khadijah. Untuk ke makamnya, harus berjalan beberapa ratus meter ke dalam komplek Ma’ala, sampai menemukan satu kawasan yang berpagar tembok dengan pintu besar berwarna hijau. Ada beberapa celah mirip jendela yang diberi jeruji, juga berwarna hijau, tempat di mana peziarah dapat menjenguk ke arah makam salah satu istri Rasulullah SAW itu.(amzar)

Selengkapnya..

Madinah

Ziarah Tanah Suci 2

Ke Madinah, Menyibak Lembar Sejarah
Oleh AMZAR

BERADA di kota Rasul, Madinah Almunawwarah, setiap hari kita seakan membuka lembar demi lembar buku sejarah, terkhusus sejarah tentang Islam, bersama tokoh-tokoh kuncinya. Apalagi bila sebelumnya sudah berbekal pengetahuan melalui sejumlah referensi, secara lisan atau lewat bacaan, boleh jadi perjalanan akan makin berkesan karena apa yang tadinya mungkin samar-samar, kini nyata di depan mata.

BELUM masuk ke jantung kota, pikiran kita sudah akan dibawa ke masa nun berabad silam. Melihat hamparan dataran gersang, berpasir dan bebatuan, setidaknya mengingatkan kita betapa dulu tentu lebih sulit lagi kondisi medannya.

Kita sekarang yang cuma duduk di kendaraan berpendingin saja, sudah merasa lelah menyusuri jalan bersejarah itu, mulai dari Makkah. Konon pula dulu, zaman di mana Rasulullah SAW bersama para sahabatnya tidak hanya berhadapan dengan kerasnya alam, tetapi juga sangarnya para musuh Islam.


Kesan menjadi lain bila sudah berada di jantung kota Madinah. Gambaran yang mungkin coba direka tentang kota kuno yang ketinggalan zaman, akan lumer seketika. Madinah kini, adalah kota dengan bentuk fisik yang tak kalah dengan kota-kota besar dunia lainnya.

Gedung-gedung jangkung dengan fasilitas modern, terhampar di sekujur kota --yang kini juga sudah hijau di sini-sana--, berpadu rapi dengan sangat banyak tempat-tempat amat bersejarah yang tetap terpelihara. Dan titik sentral yang jadi fokus pengembangan kota ini adalah Masjidil Nabawi, rumah ibadah megah bersejarah yang awalnya dulu, pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW.

Coba saja berdiri di depan pintu utama di utara masjid Nabawi. Atau mungkin pemandangan lebih elok akan terjumpai manakala mau berupaya naik ke lantai duanya. Dari celah batu terawang di dinding teras atas, lepaskan pandangan lurus ke depan, arah utara. Di situ terhampar jalan yang amat panjang, dengan sisi kiri-kanan dijejeri bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel berbintang, pusat perbelanjaan berkelas dan nun di sana, pusat-pusat aktifitas keseharian masyarakat.

Juga bila berdiri di pelataran masjid yang luas itu, coba pula menoleh ke timur atau pun barat Masjid Nabi ini. Deretan bangunan hotel dan mal supermodern berjejer rapi. Hal yang nyaris sama bakal juga dijumpai di sisi selatan masjid, arah kiblat. Pusat-pusat bisnis berpadu dengan satu-dua gedung pemerintahan yang berdiri megah.

Namun, kesemua fasilitas kekinian itu tetap tidak menghilangkan jejak-jejak sejarah yang bertebaran di dan sekitar masjid ini dan sejak lama sudah mashur ke mana-mana. Masjid Nabawi sendiri, sebenarnya sudah pernah dipaparkan di media ini tentang bagian-bagiannya yang masing-masing punya catatan sejarah tersendiri.

Mulai dari Makam Rasulullah SAW yang dari luar ditandai dengan sungkup kubah berwarna hijau, tentang Raudhah yang terletak antara mimbar dan makam Rasulullah SAW,
bagaimana serunya mendapatkan tempat di ''taman di antara taman-taman surga'' tersebut.

Atau bagaimana penerapan teknologi terkini untuk menunjang keinginan menciptakan kenyamanan jamaah di dalamnya, seperti puluhan kubah yang masing-masingnya seberat 80
ton yang bisa ''berjalan'' dan payung raksasa yang tutup-kembang secara otomatis, keduanya untuk menciptakan sistem ventilasi yang nyaman dan alami di masjid yang di dalamnya mampu menampung ratusan ribu jamaah tersebut. Juga ribuan toilet dan tempat berwuduk serta lokasi parkir yang kesemuanya dibangun bertingkat-tingkat ke arah bawah tanah.

Bagi yang berkesempatan ibadah dan berziarah ke sini, sepertinya tidak akan pernah bosan menelusuri setiap bagian dari salah satu masjid paling agung ini. Ya kenyamanannya,luas dan megahnya bangunan, dan tentu saja banyaknya tempat yang sarat sejarah. Bahkan setiap tiang yang ada di bangunan semula masjid ini, masing-masing memiliki sejarah, terkait nama-nama yang melekat padanya. Seperti Tiang Harum di kanan mihrab nabi, Tiang Aisyah, Tiang Abu Lubabah atau Tiang Taubat, yang letaknya berhadapan dengan Makam Nabi, Tiang Sarir (Tempat Tidur) di mana dulu Rasulullah meletakkan tempat tidur saat beriktikaf. Tiang Mahras atau Pengawal, Tiang Wufud atau Utusan (tempat nabi dulu menerima utusan-utusan Arab, Tiang Murabba' al-Kubur, dan Tiang Tahajud.

Itu yang di dalam masjid. Di luarnya pun, tapak-tapak sejarah masih menyisakan suasana tempo doeloe di tengah nuansa kekinian yang juga tak diabaikan.

Berjalanlah beberapa ratus meter dari depan masjid ke arah barat. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, akan dijumpai bangunan-bangunan lama berbentuk masjid. Itulah bangunan bersejarah dengan nama masjid mengambil nama para sahabat Rasulullah SAW, seperti Abu Bakar Siddiq, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab.

Masjid Abu Bakar Siddiq misalnya, tak jauh dari pagar masjid Nabawi. Karena sudah menjadi situs sejarah dan berusia lanjut, pintunya selalu tertutup dan dikunci. Beberapa bagian bangunan sudah terlihat keropos dan terkelupas, namun menaranya masih berdiri kokoh. Di arah utaranya, berdiri masjid Ali bin Abi Thalib.

Sedikit melangkah arah ke selatan, kita akan tiba pula di masjid Al-Mushala atau dikenal juga dengan nama Al-Ghamamah (Awan). Dinamakan demikian karena diriwayatkan bahwa setiap kali Rasulullah SAW melaksanakan salat di kawasan tersebut, awan akan senantiasa menaungi beliau dari sengatan matahari.

Masjid berwarna kelabu dan berkubah putih ini bernama Al-Mushala, berarti tempat salat dan di sekitar sinilah kerap digunakan dulunya sebagai tempat salat hari raya, juga untuk tempat salat Istisqa (minta hujan).

Berjalan sedikit lagi arah ke barat, berjumpa pula dengan Masjid Umar bin Khattab, yang areal pagarnya dihiasi dengan belahan batang kurma dan di pucuknya digantungkan lampu listrik yang menggunakan chasing lampu petromaks. Masjid Umar bin Khattab ini kondisinya pun tak jauh beda. Masih berdiri kokoh dengan kubah dan menaranya yang menjulang,sementara dindingnya sudah keropos dan terkelupas di sana-sini. Sayangnya, ada di antara peziarah yang tidak dapat ikut menjaga kelestariannya, sebab ada juga yang iseng membubuhkan coretan-coretan di dindingnya.

Tempat bersejarah lainnya yang juga berdekatan dengan masjid Nabawi adalah Pemakaman Baqi' di tenggara (kiri) masjid, berpagar tinggi, lazim diziarahi selepas subuh dan
sesudah Asar dan hanya boleh dimasuki kaum pria. Inilah tempat pemakaman bagi jamaah haji dan umrah yang wafat di Madinah. di sini pula bersemayam para syuhada dan
pahlawan Islam. Sedikitnya 10 ribu sahabat Rasulullah SAW dimakamkan di sini, termasuk makam para istri dan anak perempuan Rasulullah SAW, serta makam khalifah ketiga Usman bin Affan.

Satu lagi tempat bersejarah yang kerap diziarahi adalah Jabal Uhud, sebuah bukit terbesar dan terpanjang di Madinah, yang terletak sekitar lima kilometer dari pusat kota. Di sinilah dulunya terjadi perang sengit antara pasukan Islam dengan kaum musyrik yang akan menyerang Madinah, pada bulan Syawal tahun ketiga hijrah. Di sini tercatat sejarah penting di mana ketidakdisiplinan membuahkan petaka. Pasukan muslim yang semula menang, mengabaikan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan benteng pertahanan untuk ikutan mengambil pampasan perang yang ditinggalkan tentara musuh. Akibatnya, benteng rapuh dan saat itulah musuh balik menyerang, pasukan muslim kocar-kacir dan di sinilah gugur sebanyak 70 orang syuhada termasuk paman Nabi, Saidina Hamzah. Makam para syuhada itu kini berada persis di depan Bukit ar-Rumat, tempat dulu para pemanah mengambil posisi.

Jangan lupa pula untuk berziarah ke sejumlah masjid bersejarah di sekitar Madinah ini. Masjid Quba' misalnya, yang terletak sekitar tiga kilometer dari pusat kota ke arah selatan.

Inilah masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam yang diasaskan atas dasar taqwa dan iman yang padu. Istimewanya masjid ini, seperti sabda Rasulullah SAW yang artinya:

''Barangsiapa yang berwuduk di rumahnya kemudian pergi ke masjid Quba' untuk salat, akan mendapat ganjaran pahala seperti pahala menunaikan umrah.''

Satu lagi masjid yang punya sejarah penting adalah Masjid Qiblatain, yang terletak di tengah perkampungan Bani Salamah, di baratdaya Madinah. Namanya Qiblatain, artinya dua kiblat, karena sejarah itulah yang padanya melekat. Di tempat inilah Rasulullah SAW mengubah kiblat salat dari Masjidil Aqsha ke Baitullah di Masjidil Haram. Itu terjadi pada satu salat zuhur pada bulan ke-17 Rasulullah berada di Madinah. Saat salat baru dua rakaat, turun perintah Allah melalui wahyu pada surat al-Baqarah 144 untuk memalingkan arah kiblat ke Baitullah di Masjidil Haram.

Itulah sebagian di antara banyak lagi sebenarnya tempat-tempat bersejarah yang layak dikunjungi dan diziarahi di Madinah Almunawwarah, yang juga terkenal dengan Kurma
Ajwah atau Kurma Nabi ini. Harganya tinggi, khasiat kurma yang dulunya langsung ditanam oleh tangan mulia Rasulullah SAW ini, juga tinggi. Jadi, jika memang penasaran, berilah catatan tebal dalam agenda Anda untuk menempatkan Kota Madinah ini sebagai tempat kunjungan dalam waktu dekat, untuk beribadah, sekalian berziarah.***

Selengkapnya..